Adalah sebuah hal yang mengejutkan bagi orang-orang Kristen bahwa kelahiran Yesus tampil hanya di dua tempat dalam Perjanjian Baru, yakni dalam dua bab pertama Injil Matius dan dua bab pertama Injil Lukas, dan tidak ada satu pun yang menyatakan hari, bulan, dan tahun kelahiran. Selama berabad-abad Injil-injil telah dimengerti sebagai riwayat hidup atau biografi Yesus. Tentang kelahiran-Nya pun, hanya dilihat dari Injil-injil itu. Apa yang kita ketahui tentang kelahiran Yesus tergantung apa yang dinyatakan Injil-injil kepada kita.
 

Mungkin kita akan bertanya, benarkah kisah-kisah yang terangkum dalam Kitab Suci merupakan peristiwa nyata yang pernah dialami-Nya? Pernahkah malaikat menampakkan diri kepada Yusuf dalam mimpi-mimpinya? Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang Majus dari Timur? Dan di manakah sebenarnya tempat kelahiran Yesus, di Nazaret atau di Betlehem? Bagaimanakah sejarah tulisan kisah kelahiran Yesus dan perayaan Natal oleh orang-orang Kritiani?
 

Dalam buku Palungan ini, pertanyaan-pertanyaan di atas akan dicoba dibahas lebih dalam. Ulasan yang dipakai untuk membahas pertanyaan-pertanyaan di atas bersumber utama dari Kisah Masa Kanak-Kanak dalam Injil Matius dan Kisah Masa Kanak-Kanak dalam Injil Lukas. Tentu saja juga ada sumber-sumber lain yang digunakan untuk mendukung pembahasan seputar kelahiran Yesus.
 

Injil memang bukan merupakan biografi, sebagaimana dimengerti dalam pengertian modern. Injil memang mengandung informasi-informasi biografis historis, namun lebih dalam artian garis besar kronologis yang umum, beberapa informasi historis, dan insight-insight untuk mengenali karakter Yesus.
 

Buku Palungan ini menyajikan ulasan-ulasan yang cukup menarik dalam menggali kisah kelahiran Yesus dan Kisah Masa Kanak-Kanak Yesus. Dimulai dari dekonstruksi atas Injil, yang bukan semata-mata sebagai biografi Yesus, di mana terdapat catatan-catatan historis akan segala peristiwa yang terjadi pada Yesus, ulasan akan siapakah penulis Injil Matius dan siapakah penulis Injil Lukas, Kisah Masa Kanak-Kanak dalam Injil Matius dan Lukas, sampai pada perkembangan tulisan akan kisah kelahiran Yesus pasca Perjanjian Baru.
 

Fokus buku ini ada pada pertanyaan-pertanyaan historis dan teologis seputar Kisah Masa Kanak-Kanak Yesus, dan pada setiap bagian dalam bab tiga dan empat diberikan sebuah refleksi pastoral singkat. Dengan begitu, diharapkan pembaca dapat menemukan pemikiran-pemikiran yang berguna.
 

Sebenarnya ada banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Sayangnya, beberapa pembahasan yang bisa menjadi sub bab pembahasan pokok tetap dijadikan satu dalam pembahasan (satu baba). Juga tidak adanya komparasi yang jelas antara tulisan Matius dan Lukas dalam pengkisahan Masa Kanak-Kanak Yesus.
 

Yang muncul setelah membaca buku Palungan ini, mungkin, adalah: “Apakah mengetahui Kisah Masa Kanak-Kanak akan menelanjangi Natal?” Jawabannya ada di dalam buku ini.

 

*Budi Untoro