Leipzig, menjelang Natal tahun 1745. Bach terkejut ketika tiba di depan rumahnya. Tampak tiga orang perwira tentara Prusia sudah menunggunya. Seorang laki-laki berpakaian lengkap dengan atribut jenderal, dan dua perwira lain yang lebih muda. “Bukankah Tuan yang bernama Johann Sebastian Bach, pemain musik?” tegur salah satunya dengan keras dan kasar. Bach mengangkat alisnya dan menjawab tenang, “Benar, sayalah Bach, pemain orgel gereja Santo Thomas.” “Aku ingin Tuan memainkanTe Deum untukku sebagai pernyataan terima kasih pada Tuhan karena Ia telah merestui kami sehingga kami menang perang. Karena itulah aku datang kemari,” pinta si jenderal yang pada tanggal 15 Desember sebelumnya mengalahkan pasukan Saksen di Kasseldorf.
 

Wajah Bach merah padam. Jelas ia menolak permintaan itu. Tidak mungkin ia memainkan Te Deum untuk merayakan kemenangan si jenderal atas bangsanya. Ia bermain musik dengan mencurahkan seluruh hati dan perasaannya. Tidak mungkin baginya untuk tidak menghiraukan maksud dan tujuan lagu yang dimainkannya. Bach menyadari bahwa kegagalan permintaan si jenderal akan menjadi awal hari-hari yang sulit. Ia gelisah karena telah merencanakan Natal yang indah bersama anak-anak.
 

Ia sedang berkemas-kemas meninggalkan kota setelah dipaksa-paksa oleh Hakim Schettler sahabatnya. Sebelumnya, ia diberi tahu bahwa si jenderal yang ditolaknya tadi ternyata adalah Raja Leopold dari Dessau yang merasa terhina dan bermaksud menangkapnya. Pada saat itulah, terdengar suara riuh anak-anak. Mereka menyerbu masuk rumah dan mengerumuni Bach. “Ayo, Paman. Paman lupa ya pada kami. Paman berjanji akan mengiringi kami bernyanyi,” kata seorang gadis kecil. “Paman jangan pergi...,” kata yang lain.
 

Bach tertegun. Ia dihadapkan pada pilihan sulit. Menyelamatkan diri, atau menepati janjinya pada anak-anak ini. “Ayo, Paman, jangan biarkan Kanak-Kanak Yesus menunggu,” rengek anak-anak itu. Tiba-tiba mata Bach bercahaya. Ia sudah menemukan pilihannya. Diraihnya tangan anak-anak, dan segera menghambur ke gereja, meninggalkan Hakim Schettler yang terbengong. Tetapi, setiba di gereja Bach mendapati kursi orgelnya telah diduduki seorang prajurit Prusia. Ia akan memainkan ‘Te Deum’ bagi Raja Leopold yang sebentar lagi datang. Melihat Bach ia membungkuk hormat dan memberikan tempatnya. “Mainkanlah Te Deum, Tuan Bach. Raja tentu akan memaafkan segalanya,” katanya. “Memang akan saya mainkan sebuah Te Deum, tetapi Te Deum yang kujanjikan pada anak-anak ini,” jawab Bach tenang sambil menuju kursinya. Anak-anak segera mengelilingi dan siap bernyanyi.
 

Tepat pada saat Bach mengawali melodi, terdengarlah suara, ”Raja Leopold datang...!” Tetapi, lagu kepalang dimainkan. Dan, anak-anak bernyanyi lagu baru dengan lantang. Suara orgel dan nyanyian anak-anak memenuhi ruangan gereja, menggema jauh ke angkasa. Denting orgel berganti-ganti, lembut mengalir, lalu menguat bersemangat, menghentak, sebelum kemudian berhenti meninggalkan gaungnya. Seluruh hadirin menyambut bergairah. Bach berdiri, dengan langkah tenang berjalan menghampiri Raja. Orang-orang menahan nafas menanti puncaknya. “Maaf Baginda, saya telah memainkan Te Deum yang lain...,” katanya sambil membungkuk hormat. Raja menjabat tangannya, “Tuan Sebastian Bach, saya benar-benar kagum. Tuan memainkan lagu kemenangan yang jauh lebih indah dari yang kuminta. Juga, Tuan telah memperdengarkan lagu para malaikat yang belum pernah kudengar.” Raja terdiam sesaat. “Tentang menangkap Tuan... bagaimana mungkin orang berani melekatkan tangan pada Tuan kalau Tuan dikelilingi oleh para malaikat kecil,” katanya sambil menepuk bahu Bach.

              

 Anak-anak, tak diragukan lagi, tahu bahwa Natal adalah saat yang istimewa. Mereka selalu antusias dan bergembira menyambut Natal, seiring penantiannya akan hadiah-hadiah yang bisa jadi tak terbayangkan sebelumnya seakan sebuah mukjizat. Tetapi, mungkin kita lupa mengingatkan anak-anak mengapa Natal menjadi sangat istimewa. Pernahkah kita membawa anak ke dalam semangat Natal yang sedang dirayakan?
 

Minimal, anak-anak itu bisa diingatkan untuk berbagi miliknya dengan anak lain yang tak seberuntung dirinya, seperti dilakukan Elliot (Kejutan Natal Elliot. 2008. Yogyakarta: Kanisius). Ketika Elliot tahu bahwa Socks sahabatnya tak mendapat hadiah seperti dirinya, ia segera mengemas hadiah untuknya. Juga untuk Paisley, Amy, Angel, Snowy, Puff, Beaverton, dan Lionel. Dan, sebuah kejutan menggembirakan diterimanya karena perbuatan tersebut!
 

Tetapi, hadiah apa yang cocok diberikan untuk kakek dan nenek, ayah dan ibu, serta teman-teman? Buku seri Elf-Help untuk anak-anak, Rayakan Natal dengan Istimewa! Panduan Anak untuk Memahami Makna Natal, memberikan ide-ide menarik untuk memilih hadiah yang yang cocok untuk teman-teman, orang tua, dan kakek serta nenek. Lebih dari itu, kegembiraan Natal makin terasa ketika kita diantar ke makna Natal yang sedang dirayakan melalui kisah-kisah dalam buku Pohon Natal Gerald, Hadiah Natal Untuk Obi, Hadiah Natal Franklin, dan Cerita Natalku yang Pertama.
 

Biarkan anak-anak memaknai Natalnya sendiri, kita membantunya dengan memberikan bacaan yang tepat baginya. Bacaan yang baik akan membuka ruang bagi Roh Natal menuntun secara ajaib anak-anak kita. Biarkan anak-anak tak lagi sekadar menanti hadiah istimewa dari Sinterklas seakan sebuah mukjizat. Jadikan Natal ini makin istimewa ketika anak-anak mencoba menjadikan dirinya hadiah atau mukjizat bagi sesamanyaseperti pernah dialami anak-anak di kota Leipzig yang menjadi malaikat-malaikat kecil penyelamat Johann Sebastian Bach.

 

* Warindrayana