Terima kasih kepada Koran Jakarta atas pemuatan resensi buku “Docat Apa yang Harus Dilakukan?” pada Hari Sabtu, 24 Desember 2016 yang ditulis oleh Saudara Ngarjito Ardi Setyanto, Mahasiswa PA Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga.

 

Berikut merupakan nukilan dari resensi buku tersebut.

 

Buku Docat merupakan adaptasi populer Ajaran Sosial Gereja (ASG) yang telah dikembangkan dalam dokumen-dokumen penting Gereja sejak masa Paus Leo XIII. Buku ini terjemahan misi Gereja dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu, buku memperlihatkan bahwa kehadiran Gereja bukan untuk interaksi manusia dengan Tuhan semata, tetapi dengan sesama lainnya.

 

Dalam buku terdapat 12 tema yang dikupas secara rinci dan jelas. Tema yang dibahas termasuk topik rencana besar Allah, prinsip-prinsip ASG, pekerjaan dan panggilan, kekuasaan dan moralitas, serta menjaga keutuhan ciptaan.

 

Tetapi yang cukup menarik adalah penjelasan peran Gereja dalam kehidupan sosial. Sebab Gereja sebagai wakil Kerajaan Allah di dunia diperintahkan untuk membawa Kabar Gembira kepada semua manusia di bumi. Kehadiran Injil bukan untuk orang Kristen atau Katolik, saja, tapi untuk semua manusia di bumi. Sebab, kehadiran Injil untuk menata kehidupan manusia, tanpa terkecuali.

 

Kehadiran Injil untuk manusia sangat jelas sebagaimana tertuang dalam Lukas 24:47-51, “Dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semua ini. Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa- Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.

 

Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga.”

 

Dari ayat tersebut sangat jelas, kehadiran Injil untuk semua bangsa, tanpa terkecuali. Nah dari ayat ini kita bisa menelisik lebih jauh penerapannya dalam Gereja. Maka Gereja bukan hanya tempat beribadah, tetapi untuk interaksi sesama manusia. Dalam interaksi ini kita bisa mengolah rasa dalam diri. Sebab, rasa akan terbangun saat kita merasakan langsung seperti bersentuhan dengan orang lain.

 

Selebihnya dapat dibaca di portal ini http://www.koran-jakarta.com/gereja-harus-mengalirkan-kasih-yesus-kepada-semua-makhluk/