Sabtu, 17 Desember 2016 lalu, PT KANISIUS mendapat undangan untuk menghadiri acara pemutaran film “Mengejar Embun ke Eropa”. Film ini digagas oleh Rumah Produksi Universitas Halu Oleo Kendari, Sulawesi Tenggara bersama Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) dan Puskat Picture. Film “Mengejar Embun ke Eropa” sudah mulai serentak ditayangkan tanggal 15 Desember 2016 di bioskop seluruh Indonesia.

 

“Mengejar Embun ke Eropa” merupakan karya besar dari sutradara Haryo Sentanu Murti, yang juga menulis ulang skenarionya berpadu dengan N. Riantiarno. Pulau Muna menjadi pembuka yang indah dalam film ini. Anak-anak Pulau Muna tinggal di daerah krisis air. Anak-anak Muna selalu mengawali harinya dengan mandi embun sebelum pergi ke sekolah. Puro adalah salah seorang anak laki-laki Muna yang masa kecilnya hanya bisa merasakan segarnya air jika ada embun. Begitu juga dengan Ani, anak perempuan Muna yang juga mengalami mandi embun. Anak-anak Muna berlarian di antara tanaman singkong untuk mendapatkan embun pagi. Mereka adalah anak-anak para petani yang hidupnya sangat sederhana.

 

Prof. Dr. Ir. Puro, diperankan oleh Rizky Hanggono, adalah seorang dosen di sebuah kampus bernama Universitas Delapan Penjuru Angin (UDPA) Kendari. Perjuangan Prof. Dr. Ir. Puro untuk membangun kampus menjadi lebih disiplin ternyata justru mendapat halangan dari banyak pihak, termasuk istrinya sendiri, Ani diperankan oleh Putri Ayudya. Ani istri Puro menilai Puro terlalu keras sebagai seorang pemimpin sehingga menyebabkan Puro dipecat sebagai Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Universitas Delapan Penjuru Angin. Namun, berhentinya Puro sebagai Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Universitas Delapan Penjuru Angin justru membuatnya mendapatkan kesempatan belajar di negara Italia dan Belanda.

 

Di negara Italia dan Belanda Puro banyak belajar mengenai perbedaan dan toleransi. Puro pun berkenalan dengan Roberta yang diperankan oleh Roberta Salzano. Perempuan yang berwawasan luas, dan mengenalkan Puro dengan banyak tempat di Belanda dan Italia. Sering pergi bersama Roberta, namun Puro tetap menjaga cinta dan kesetiaannya pada istrinya Ani yang tinggal di Kendari.

 

Sepulang dari Italia, Puro kembali ke Universitas Delapan Penjuru Angin dan membaktikan dirinya di sana. Setelah resminya pengangkatan Puro menjadi Rektor Universitas Delapan Penjuru Angin, Ani istri Puro pun merasa terpanggil untuk membantu tugas suaminya. Selama menjabat sebagai Rektor banyak kejadian yang dipenuhi dengan prahara penolakan dari mahasiswa bayaran dan preman-preman yang tidak setuju dengan dipilihnya Puro menjadi Rektor. Namun, tekad yang besar untuk mengembangkan Universitas Delapan Penjuru Angin sukses mengantarkannya sebagai seseorang yang tegas berprinsip dalam menertibkan dan meniadakan praktek KKN di kampusnya.

 

Film mengenai pendidikan di Indonesia memang sangat jarang, Film ini patut diapresiasi karena mengangkat nilai-nilai lokal dan budaya daerah. Film ini juga sarat akan nilai-nilai luhur yang harus ditanamkan pada generasi muda. Semangat kesederhanaan, jujur, disiplin, dan toleransi tergambar nyata di film ini.