Seorang iman berada dalam perjalanan dengan pesawat terbang. Karena dia mengenakan pakaian dengan roman collar, pakaian penanda seorang imam, maka orang yang duduk di sebelahnya langsung menyapa, “Kamu pastor Katolik?” Dia pun menjawab, “Benar demikian!” Orang itu langsung menyambar dengan pernyataan, “Saya tidak pernah ke Gereja, saya tidak percaya pada Gereja!” Imam itu mengernyitkan dahi, menanti penjelasan lebih lanjut dengan orang itu. “Gereja penuh dengan orang-orang munafik. Mereka ke Gereja setiap hari minggu, berdoa di sana, namun di hari-hari berikutnya melakukan hal-hal yang berbeda dengan doa-doa saleh yang diucapkannya!” Tanpa mau melakukan debat kusir, imam itu pun mengatakan, “Sayang, kamu sekarang duduk di sebelah orang munafik seperti itu!”

 

Persoalan yang diajukan adalah soal klasik : mengapa sering ada keterpisahan antara liturgi dengan realitas dan pergumulan hidup sehari-hari? Mengapa liturgi sering hanya berhenti  sebagai ritual, rubrik, dan devosi belaka, seakan memang hanya aturan dan rasa kesalehan privat yang ingin dicari?

 

Liturgi dan kehidupan hendaknya saling terkait satu sama lain, sehingga hidup beriman terbangun pula dalam dua fondasi dasar : cultus dan caritas, kultus ibadah namun pula tindakan kasih. Dalam ungkapan tradisi pemikiran tidak jarang lalu dikemukakan tentang dua ‘ruang kebenaran’, sabda dan tindakan, atau altar (rumah ibadat) dan kehidupan (rumah tinggal). Keduanya bukanlah hal yang terpisahkan, namun terpadu, saling terkait serta melengkapi satu sama lain.

 

Buku Roti Hidup, Ekaristi dan Dunia Kehidupan, yang ditulis oleh Rm. T. Krispurwana Cahyadi, SJ. ini, pertama-tama berangkat dari pengalaman Gereja awal, bagaimana tertuang dalam warta Kitab Suci dan tradisi dari para bapa Gereja. Hidup iman Gereja senantiasa berakar pada Kitab Suci dan tradisi, sebab dari situlah kesetiaan akan ajaran Kristus dan warisan iman para rasul dinyatakan. Setelah itu akan dilihat bagaiamana dan seperti apa liturgi yang sebaiknya kita pahami dan kita bangun. Liturgi adalah karya pujian bagi kemuliaan Allah, terarah kepada-Nya dan karenanya merupakan tanda serta jalinan relasi dengan-Nya. Di dalamnya unsur kultural dan simbol manusiawi berbicara pula. Barulah kemudian kita berbicara mengenai Ekaristi, sebagai roti hidup santapan keselamatan yang menyelamatkan, memberi hidup serta mendorong kita untuk ikut dalam gerak Tuhan, yang berbagi hidup kepada dunia, bagi keselamatan umat manusia, karena serta dalam kasih-Nya. Bagaimana hal itu diwujudkan serta diaktualisasikan secara nyata, sebagai tanda iman yang hidup, kita akan menyimaknya dari dua tokoh : Beata Teresa dari Calcutta dan Pater Pedro Arrupe. Teresa adalah suster Misionaris Cintakasih, yang terkenal dengan karyanya bagi kaum miskin; sedangkan Pedro Arrupe adalah Pimpinan Umum Serikat Yesus (1965-1981), yang juga terkenal dengan terobosan-terobosan karya sosial. Di bagian akhir, kita akan mencoba menyimak bagaimana sebaiknya suara keadilan tersebut juga digemakan  tidak saja dalam pemahaman akan liturgi Ekaristi, tetapi juga terdengar dalam liturgi sabda. Homili akan keadilan, itulah yang lalu hendak dibicarakan. Di bagian penutup, kita akan mencoba melihat bagaimana dan apakah artinya : keadilan dari altar dan mimbar, bagaimana membangun homili yang sungguh dapat berbicara tentang hidup dan membangun hidup.

 

Daftar isi buku Roti Hidup, Ekaristi dan Dunia Kehidupan :

 

Belajar dari Kitab Suci dan Tradisi Gereja Awal

-        Perjamuan

-        Paulus: Ekaristi dan Kesatuan

-        Yohanes: Roti yang Dibagikan

-        Pencarian Gereja Perdana

-        Catatan Umum

 

Liturgi: Merayakan Kehidupan

-        Liturgi: Allah yang Bertindak

-        Liturgi: Relasi

-        Inkulturasi

 

Ekaristi, Perjamuan Kehidupan

-        Ekaristi bagi Gereja yang Hidup

-        Persekutuan yang Berbagi

-        Kurban Hidup

-        Ekaristi dan Kehidupan

-        Ekaristi, Peneguh di Tengah Peziarahan Hidup

 

Undangan untuk Berbagi dan Peduli: Belajar dari Teresa Calcutta dan Pedro Arrupe

-        Bermula dari Kisah

-        Menemukan Tuhan yang Hadir Tersembunyi

-        Berbagi Roti, Berbagi Hidup

 

Homili, Kisah Tuhan yang Membangun Hidup: Belajar dari Walter Burghardt

-        Homili dalam Liturgi

-        Merancang Homili

-        Homili dan Keadilan Sosial

-        Penutup

 

Penutup: Kehidupan dari Altar dan Mimbar

 

 

Semoga buku ini member manfaat bagi pembaca, agar semakin karya kasih Allah, yang nyata dalam Ekaristi, semakin kita pahami, hayati, dan terlebih semakin menggerakkan kita semua untuk ikut serta dalam tindakan kasih Allah tersebut. Semuanya hanyalah demi kemuliaan Allah yang lebih besar, sehingga, “… mereka melihat perbuatan yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Surga” (Mat 5:16).

 

 

*disarikan dari buku Roti Hidup, Ekaristi dan Dunia Kehidupan, Rm. T. Krispurwana Cahyadi, SJ.

 

**east**