Resensi ini dimuat di Koran Jakarta edisi digital, Kamis 17 Mei 2012

 

“Pemeluk agama secara tidak sadar dikontrol dan dibatasi sentimen agama dalam bersosialisasi sehingga pemeluk agama yang harusnya menjadi orang baik lantaran dekat Tuhan, justru malah menjadi orang yang menyebalkan karena terjebak formalisme agamanya. Bahkan, tidak jarang formalisme muncul dalam bentuk ekstrem dan kejam, seperti tindak terorisme.”

 

Pluralitas dalam kehidupan tak dapat disangkal. Hal ini tak bisa dimungkiri karena Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda. Bukan hanya pada wilayah fisik saja, perbedaan juga meliputi pola pikir dan keyakinan. Oleh karena itu, pluralitas agama juga merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat dibantah.

Berangkat dari diferensiasi tersebut, salah satu efeknya, setiap orang memilih jalan masing-masing untuk menemukan Tuhan. Bahkan, orang yang mengaku ateis pun dalam hati kecilnya meyakini kekuatan supranatural di atas manusia. Nah, jalan-jalan inilah yang disebut sebagai agama. Jalan-jalan ini kemudian melembaga secara formal. Hingga pada akhirnya kita mengenal Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Islam, Kong Hu Cu.

Sikap paling arif dan bijaksana melihat perbedaan keyakinan di atas adalah toleransi. Saling menghormati keyakinan antarumat beragama sudah selayaknya dilakukan karena hakikat agama adalah keteraturan dan keharmonisan. Tidak ada satu pun agama yang mengajarkan pemeluknya berbuat destruktif.

Kiranya pesan itulah yang hendak disampaikan Albertus Sujoko lewat bukunya Militansi dan Toleransi, Refleksi Teologis Atas Rahmat Sakramen Baptis ini. Imam dan biarawan MSC yang berkarya di Purworejo ini mengajak seluruh umat beragama, khususnya Katolik, untuk selalu mengedepankan toleransi beragama. Di sisi lain, setiap umat pemeluk agama juga harus memiliki fanatisme terhadap agamanya.

Sepintas kita melihat diskursif yang diusung Albertus saling bertolak belakang (kontradiktif). Memang demikian, tapi keduanya harus dimiliki setiap pemeluk agama. Orang yang mengatakan agamanya paling benar adalah sebuah kewajaran. Bahkan, ini menjadi kewajiban pemeluk agama yang sungguh-sungguh beriman. Klaim ini juga menggambarkan kualitas iman seorang pemeluk agama. Hal inilah yang disebut sebagai militansi atau fanatisme. Dengan catatan, militansi agama hanya menjadi konsumsi pribadi. Jadi, tidak boleh ada fanatisme buta.

Militansi hanya pada tataran batin (iman) pemeluk agama. Maka itu, menjadi tidak benar bila sikap itu dituduhkan secara langsung kepada pemeluk agama lain karena bisa memicu konfrontasi yang berkepanjangan.

Pemeluk agama secara tidak sadar dikontrol dan dibatasi sentimen agama dalam bersosialisasi sehingga pemeluk agama yang harusnya menjadi orang baik lantaran dekat Tuhan, justru malah menjadi orang yang menyebalkan karena terjebak formalisme agamanya. Bahkan, tidak jarang formalisme muncul dalam bentuk ekstrem dan kejam, seperti tindak terorisme.

Bagi pemeluk Katolik, militansi pun diwajibkan. Setelah melakukan baptis orang-orang Katolik harus militan terhadap agama Katolik. Sakramen baptis hendaknya membuat orang Katolik militan, dalam artian sungguh meyakini panggilan Allah yang menuntunnya menerima sakramen baptis. Di sisi lain, rahmat baptis tidak boleh membuatnya sombong, tapi malah rendah hati dan penuh syukur.

Semangat rendah hati itu perlu diwujudkan dalam sikap toleransi dan penghargaan yang tulus terhadap pemeluk agama lain (hlm 8). Hal ini senada dengan pandangan dosen teologi dogmatik Universitas Gragoriana Roma, Francis A Sullivan, SJ, tentang sikap keagamaan umat Katolik pascabaptis. Pertama, pemeluk Katolik bersikap fanatik tertutup. Doktrin "Di luar Gereja tidak ada keselamatan" harus menancap kuat pada sanubari umat Katolik. Doktrin ini hanya konsumsi pribadi (imani) bukan untuk bersosialisasi di masyarakat.

Kedua, toleransi terhadap agama lain. Banyak jalan menuju Roma. Demikian pula banyak cara menemukan Tuhan. Setiap manusia memiliki pola pikir yang berbeda. Cara mencapai Tuhan pun tentu berbeda.

Jika dalam wacana paradigma lama, agama-agama lebih menekankan aspek formal, ritual, simbolik, dan dogmatis dari doktrin agama, dalam paradigma baru, prioritas program keagamaan adalah pemberdayaan keyakinan, sikap, dan perilaku keagamaan yang lebih substantif. Ritualitas keagamaan dimaknai secara substantif. Sehingga sikap keagamaan lebih rasional dan membawa manfaat praktis dan konkret. Salah satunya adalah melahirkan sikap toleransi beragama.

Buku ini memang diorientasikan untuk umat Katolik. Tapi, nilai-nilai yang terkandung dalam buku ini layak diteladani seluruh umat beragama. Tujuannya agar tercipta toleransi dan keharmonisan antarumat beragama. Membaca buku ini menjadi sangat penting, mengingat Indonesia adalah negara yang rentan konflik beragama.

Diresensi Abdullah Hanif, tinggal di Yogyakarta




Judul : Militansi dan Toleransi
Penulis : Albertus Sujoko, MSC
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Terbit : I, Maret 2012
Tebal : 164 Halaman