Satu sore sepulang kerja, anak saya menyodorkan sepucuk surat dari gurunya. “Surat buat ortu dari guru Bahasa Indonesia, Yah,” katanya. Saya segera membuka dan membacanya. “Membaca karya putra Bapak/Ibu lewat tulisan cerpen, kami sebagai guru Bahasa Indonesia berpendapat bahwa ternyata putra Bapak/Ibu mempunyai potensi untuk menulis. Maka kami menyayangkan jika karya-karya tulisan tersebut hanya disimpan atau bahkan dibuang. Kami sebagai guru bahasa mempunyai gagasan mengumpulkan karya-karya putra Bapak/Ibu untuk dijadikan sebuah buku dan diterbitkan. Harapan kami agar anak-anak bisa bangga dengan hasil karyanya sehingga termotivasi untuk terus menulis....” Surat itu diakhiri dengan permintaan persetujuan dan pembayaran Rp 50.000,00 untuk biaya penerbitannya.

 

Era Baru Dunia Penerbitan

 

Tiba-tiba saja saya sadar sudah berada di era baru dunia penerbitan yang membuka banyak peluang bagi calon penulis. Sekian tahun silam, kumpulan cerpen anak SMP, siapa mau menerbitkan? Menerbitkan naskah seperti ini, penerbit mesti siap-siap investasinya berhenti. Bukunya diemohi pasar dan kembali menumpuk di gudang. Karenanya, naskah seperti itu pasti bakal ditolak penerbit. Tapi, itu cerita lama. Ketika teknologi cetak belum seperti sekarang, peluang naskah Anda ditolak oleh penerbit memang sangatlah besar. Seorang teman pernah bertutur, “Saya pernah datang ke penerbit membawa naskah. Tak tahunya, naskah yang sudah ditulis dengan menguras waktu dan tenaga itu ditolak. Lemes rasanya.” Itu memang cerita biasa. Suatu kali kami diundang ke sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya untuk bicara mengenai menulis dan menerbitkan buku. Seorang penulis senior kami ajak untuk berbagi pengalaman di sana. Rupanya, pengalaman paling mengesankan baginya adalah saat naskahnya berkali-kali kami tolak. “Mana dibilang naskahnya tidak sesuai prioritas penerbit, out of the box, segmen pasarnya terbatas, dan lain sebagainya,” katanya.

 

Karena tak mudah menerbitkan buku, banyak calon penulis yang enggan menulis lagi. Namun, zaman susah itu kini telah lewat. Para penulis paling idealis sekalipun, yang tak bisa kompromi dengan tuntutan pasar, kini dimudahkan untuk menerbitkan bukunya. Kehadiran teknologi cetak digital dengan mesin-mesin seperti HP Indigo Press 2000 dan OCE VARIO Print telah memungkinkan layanan print on demand. Tiras tak harus ribuan, permintaan cetak 1 eksemplar pun kini bisa dilayani. Teknologi cetak digital ini juga menjamin kecepatan proses, ketepatan warna, dan unggul soal fleksibilitas bahan dan tiras cetak. Prosesnya lebih efisien karena sudah meninggalkan tahap plate making, print film, maupun CTP (computer to plate).

 

Dengan dukungan mesin-mesin digital printing tersebut penerbitan book on demand (BOD) pun bisa dilakukan. Naskah-naskah bagus yang dulu ditolak dengan alasan rendahnya serapan pasar, kini bisa diterbitkan dengan tiras sesuai kebutuhan penulis. Tak heran, layanan penerbitan sistem BOD ini kini ditanggapi positif banyak kalangan, utamanya para guru dan dosen yang memang berkepentingan dengan menulis dan menerbitkan buku. Di  luar kalangan pendidikan pun, BOD menjadi kabar gembira bagi para calon penulis untuk menulis buku sebagai ekspresi dan aktualisasi diri. Ada kepuasan batin di sana. Bahkan, seorang guru Bahasa Indonesia pun menjadi bergairah menyemangati menulis dan menerbitkan kumpulan tulisan siswanya.

 

 

Penulis Berinvestasi dalam Penerbitan Bukunya

Saya memberikan apresiasi dan membalas surat Ibu guru Bahasa Indonesia anak saya di SMP Stella Duce 1 tersebut. “Terima kasih, Ibu telah memotivasi anak-anak untuk terus menulis, menghargai tulisannya, dan terus mengembangkannya. Soal biaya lima puluh ribu rupiah, saya setuju. Hanya saja, kalau boleh tahu, buku yang akan diterbitkan itu format/ukurannya berapa? Berapa jumlah halamannya? Kertas apa yang dipakai? Barangkali saja, saya bisa menghitungkan dengan angka yang lebih rendah. Juga, layanan dan kualitas yang lebih baik. Kebetulan, saya menangani penerbitan book on demand di Penerbit Kanisius....”

 

Book on Demand, layanan ini muncul ketika pasar dunia perbukuan makin berdesakan, dan berdampak banyak naskah bagus ditolak penerbit kalau prediksi serapan pasarnya rendah. Naskah bagus yang bakal memberdayakan orang, kendati hanya dalam kelompok-kelompok kecil, idealnya mesti bisa diterbitkan. Untuk ini dibutuhkan kerja sama penulis. Penerbit mungkin kesulitan menjangkau pembaca dalam kelompok-kelompok yang begitu spesifik yang meminati buku tersebut.

 

Karena itu, Penulis perlu memberikan subsidi atas biaya penerbitan demi tersebarluasnya gagasan yang sudah dilahirkannya. Tiras terbitan tidak harus banyak, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan yang sudah diketahui penulis. Apakah dengan demikian penerbit merugikan penulis? Jika penulis sudah mengetahui dengan pasti jumlah pembaca akan yang akan membutuhkan buku yang ditulisnya, investasi yang dikeluarkan oleh penulis untuk menerbitkan bukunya, tentu akan cepat kembali. Penerbit memfasilitasi penulis dalam proses penerbitan dan pemasaran buku. Dengan fasilitasi tersebut, penulis dapat menyebarluaskan gagasannya dan memperoleh kembali investasinya plus royalti yang tetap diberikan oleh penerbit. Win-win relation.

 

Dengan win-win relation antara penulis dan penerbit, ternyata pembaca pun ikut diuntungkan. Harga buku bisa menjadi lebih rendah dibanding buku reguler yang membutuhkan tindakan yang lebih serius dalam promosi dan pemasaran. Harga buku BOD, bisa mengesampingkan komponen biaya pemasaran, promosi, dan distribusi, karena penulis yang aktif berelasi dengan komunitas pembacanya yang spesifik, mampu memangkas komponen biaya-biaya tersebut.

 

Fenomena BOD merupakan warna baru dalam dunia penerbitan. Fenomena ini memberi variasi dalam dinamika perkembangan dunia penerbitan. Tambahan variasi, tentu saja membawa gairah pula bagi pelaku dunia penerbitan, dan semoga juga menggairahkan bagi para penulis.

 

 

F.X. Warindrayana,

editor BOD di Penerbit Kanisius

 

Artikel dunia perbukuan ini merupakan kerjasama Penerbit-Percetakan Kanisius dengan Harian Bernas dan sudah dimuat pada tanggal 27 April 2012.

 

Anda berminat dengan BOD? Silakan baca informasi lengkapnya di sini : BOD, Solusi Cepat dan Mudah Menerbitkan Buku Anda.