Kalau yang menjadi sajian mata dan telinga anak-anak Indonesia saat ini adalah: game bunuh bunuhan, sinetron dendam dendaman, kartun gebuk gebukan, film tembak tembakan ... yang kerapkali sengaja menampilkan kekerasan yang sungguh ekstrim … lalu apa yang diharapkan dari hasil perasaan, pikiran, dan tindakan mereka kemudian? Apakah wajar apabila masih diharapkan, bertumbuhnya anak-anak atau generasi masa depan yang bisa menghargai kebersamaan, perdamaian, cinta kasih, dll? Apakah masih harus dipertanyakan mengapa saat ini tawuran masih mewarnai dunia remaja di mana-mana, juga mengapa banyak pembunuhan sadis yang bahkan dilakukan oleh orang terdekat? Dalih yang mengatakan bahwa itu game, sinetron, kartun, film hanyalah buatan dan bukan hal nyata berarti mengingkari kecerdasan manusia yang mendengar, melihat, merekam, dan kemudian mengolah di dalam pikiran bawah sadarnya tentang apa yang tersaji di depannya.
 

Lalu bagaimanakah orang tua harus melakukan adaptasi yang luar biasa untuk selalu bisa menyikapi dengan bijak dalam mendampingi putra putrinya, agar mereka nantinya menjadi generasi yang lebih baik dari orang tuanya?
 

Krishnamurti adalah seorang ayah, yang juga menginginkan hal yang kurang lebih sama dengan orang tua (ayah) lainnya. Maka di dalam buku ini, Krishnamurti berbagi untuk para ayah. Dengan kapasitasnya sebagai mindset motivator, maka peran dia menuliskan pengalamannya sebagai seorang ayah, sekaligus juga sebagai motivator. Menarik bukan?! Apakah itu berarti bahwa apa yang ditulisnya adalah hal ideal yang menawarkan kesempurnaan? Ternyata tidak. Namun justru di situlah kunci inspirasinya.
 

Mungkin, di bawah ini komentar beberapa ayah sebelum membaca bukunya.
 

“Saya sibuk, tidak sempat baca buku!”

Hei, buku ini menjawab hal itu. Sejak buku sebelumnya Tundukkan Setan Pikiranmu, Jadilah Malaikat Kehidupan yang banyak disukai pembaca karena sistem baca acaknya (bisa membuka halaman mana saja untuk menemukan inspirasi), maka begitu pula dengan buku ini. Saya akan mencoba membuka salah satu halaman dengan acak … dan inilah isinya …

 


Acak 1



Acak 2

 

 

“Saya banyak bepergian, tidak punya ruang untuk baca buku!”

Hei, buku ini menjawab hal itu. Tidak harus dengan kening berkerut untuk membaca buku ini. Anda bisa membaca atau bahkan memperbincangkan isinya kapan saja dan di mana saja Anda berada. Anda bahkan bisa melakukannya sembari makan bubur ayam di pinggir jalan. He3 … Di bawah ini, kami sajikan inspirasi tempat-tempat di mana buku seperti ini bisa diperbincangkan … (karena hanya simulasi maka model satunya bukan ayah :)) ...

 


Di angkringan bubur ayam Jalan Malioboro


Di radio (disiarkan di Minggu Kasih Pro2, 22 April 2012)


Di halaman samping rumah


Di resto


Di saat syuting


Di seminar


Di mana saja ... yang penting hepi :)

 


Buku Si Monyet Cerdik, Ayah Ala Motivator ini merupakan karya ke-4 dari Krishnamurti bersama Penerbit Kanisius. Buku yang memang spesial diperuntukkan bagi para ayah. Inilah persembahan istimewa dari ayah untuk ayah. Maka, para ayah yang sungguh mencintai dan peduli pada putra putri Anda, selamat membaca ya!

 

*eas_t




**red lace cardigan created by : Lilik Kardiani