“Saya dan beberapa teman peneliti pertanian/peternakan  ingin menulis untuk penerbitan Kanisius tetapi belum mengetahui prosedur/cara bahkan format  buku yang diterbitkan Kanisius. Tolong infonya.” Begitu tulis seorang yang berprofesi sebagai Peneliti Utama di BPTP Sulawesi Selatan lewat email ke warindra@kanisiusmedia.com.
 

“Pak Warindra, berikut sy lampirkan file naskah Prof Simarangkir Dosen Kalimantan yang saya ceritakan tempo hari. Mohon dibantu untuk diterbitkan dalam waktu yang singkat....”  Ini email lain lagi, dari Ibu Omega Raya Simarangkir. Ceritanya, Ibu ini sedang studi lanjut di Yogya. Mendengar Kanisius punya layanan penerbitan Book on Demand, beliau sempatkan berkunjung. Kebetulan, ayahnya yang mengajar di sebuah Perguruan Tinggi di Kalimantan sedang mencari penerbit yang bisa menerbitkan bukunya. Maka pucuk dicinta ulam tiba. Naskahnya dikirim ke divisi Book on Demand (BOD) Kanisius dan segera diproses.
 

Book on Demand, layanan ini muncul ketika pasar dunia perbukuan makin berdesakan, dan berdampak banyak naskah bagus ditolak penerbit kalau prediksi serapan pasarnya rendah. Kanisius yang mencoba menjadi “Mitra Sejati Gereja dan Dunia Pendidikan”, tidak bisa hanya melulu berorientasi pada profit. Buku bagus yang memberdayakan orang, kendati ada dalam kelompok-kelompok kecil, mesti dibantu penerbitannya. Namun, mesti ada kerja sama, karena Kanisius tak mampu menjangkau pembaca dalam kelompok-kelompok yang amat spesifik yang disasar buku tersebut.
 

Maka sejak awal disampaikan ketentuan-ketentuan untuk mendapatkan persetujuan. Kanisius mau menerbitkan kalau penulis mau membiayai penerbitan sejumlah buku yang dibutuhkannya. Jumlahnya tidak harus banyak, bisa sesuai kebutuhan. Kendati begitu, tetap ada minimal order. Setelah dihitung, ditemukanlah angka terendah Rp 3 juta sebagai minimal order.
 

Banyak kalangan menyambut positif layanan ini. Utamanya dari kalangan pendidikan. Para penulis yang punya sasaran pembaca jelas, bisa menghitung kebutuhannya, dengan cepat bisa mendapatkan kembali modalnya. Kalau mau, ia masih mendapatkan profit 35% dari harga buku. Rinciannya, 25% telah diberikan Kanisius sebagai diskon kepada penulis, ditambah royalti 10% yang diberikan dimuka sehingga menambah potongan. Para penulis itu hanya membayar 65% harga buku kepada Kanisius.
 

Proses penerbitannya pun relatif cepat dibandingkan penerbitan umum yang tirasnya lebih banyak. BOD menjanjikan dalam waktu 1,5 bulan normalnya, buku sudah terbit. Prosedurnya pun amat sederhana. Naskah dikirimkan via email. Penulis bisa menentukan ukuran buku dan kertas yang dipakai. Kemudian segera kami hitung biaya penerbitannya. Komunikasi lewat email bisa dilakukan dengan intensif dan personal, sehingga semuanya jelas. Kami melayani Anda senyaman mungkin, termasuk diskusi teknis mengenai hasil sunting, desain isi, dan desain cover yang kami buat. Buku nantinya terbit lengkap dengan ISBN dan logo Penerbit Kanisius.
 

Jangan sungkan, meskipun hanya sekadar bertanya dulu, kirimkan email Anda ke warindra@kanisiusmedia.com.



*Warindrayana, editor