Resensi ini dimuat di digital edition Koran Jakarta, Kamis, 09 Februari 2012

 

Bisnis merupakan kegiatan ekonomi untuk mendongkrak kehidupan. Sektor ini digeluti banyak pihak karena menjanjikan keuntungan menggiurkan. Buku Moralitas, Lentera Peradaban Dunia hadir di hadapan meja pembaca sebagai jawaban integral terhadap makna dimensional bisnis yang luput dari sentuhan-sentuhan aspek fundamental: kemanusiaan dan moralitas.

Secara berurutan, buku ini memuat tiga persoalan besar yang sering disepelekan banyak pihak: etika dan fenomenologi moral; etika bisnis dan komunikasi; serta etika biomedis, genetika dan lingkungan hidup. Argumen kritis bernada filosofis seputar "sisi lain" bisnis dibahas tuntas pada bagian dua bunga rampai yang ditulis untuk mengenang ulang tahun ke-75 tahun Kees Bertens ini.

Eksplisit buku ini mengingatkan jerat bisnis tidak saja menyentuh aspek ekonomi, bahkan telah merambah jauh ke ranah sosial dan keagamaan. Dalam salah satu artikel di buku ini, Kasdin Sihotang menulis, "Rumah sakit dan pendidikan merupakan representasi dari bidang sosial yang sudah terjangkit oleh bisnis. Lembaga-lembaga ini sekarang sudah berorientasi pada ekonomi dan cenderung meninggalkan tujuan dasarnya, yakni melayani masyarakat. Pelayanan menjadi nomor dua sesudah uang. Bahkan uang telah membingkai seluruh kegiatannya" (hlm 205).

Realitas tersebut masih berlangsung hingga hari ini. Sebagai akibatnya, bisnis semakin menjauh dari moralitas kemanusiaan. Nalar kuasa bisnis kelihatannya enggan berafiliasi dengan humanisme. Keuntungan sebagai titik sentral mengguratkan wajah hitam aspek sosial-keagamaan. Hal itu didasari fakta bahwa banyak orang yang lupa terhadap moralitas. Dianggapnya, moralitas cukup mengganggu jalan meraup keuntungan berbisnis.

Usaha-usaha serius Kees Bertens dalam mengkhotbahkan etika dan moralitas disambut baik generasi-generasi di bawahnya. Bunga rampai ini memuat seruan kritis akan dimensi moralitas sebagai langkah etis untuk dijadikan landasan dalam kegiatan sehari-hari, termasuk dan terutama dalam hal bisnis.

"Bisnis yang melulu mengejar kepentingan sendiri dalam jangka pendek barangkali akan mendapat keuntungan (tangible value) besar, tapi sangat rapuh untuk jangka panjang. Sikap mengejar keuntungan dengan mengurangi mutu pelayanan, sehingga klien dirugikan, cepat atau lambat membuat bisnis kehilangan modal sosial berupa pengakuan dan kepercayaan (intangible value) maka ditinggalkan pelanggan," tulis Andre Ata Ujan (hlm 264).

Sejatinya, bisnis memiliki dimensi moral yang jika diterapkan akan mendongkrak keuntungan ganda: finansial dan kekuatan sosial. Di sinilah pentingnya merajut kembali etika berbisnis dengan pertimbangan-pertimbangan moral. Karena pemahaman serta internalisasi nilai-nilai moralitas akan berfungsi sebagai internal self-control dalam berbisnis. Jika hal itu terlaksana, moralitas akan benar-benar menjadi-sesuai dengan judul buku ini-lentera peradaban dunia.


Diresensi oleh Naufil Istikhari, mahasiswa UIN Yogyakarta






Judul : Moralitas, Lentera Peradaban Dunia
Editor : Andre Ata Ujan, dkk
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : 1, 2011
Tebal : 473 halaman
ISBN : 978-979-21-3094-2