Dalam sebuah perbincangan di antara para pelaku usaha penerbitan, menyeruak suasana galau, resah, dan seolah tercermin pula di sana rasa ketidakpastian akan hari esok. Meski canda-canda konyol khas orang buku tetap menggambarkan sebuah kreativitas tersendiri, tetap saja kegalauan tersebut tak mampu atau memang tak perlu disembunyikan.

 

Dalam perbincangan tersebut, kami sedang mendiskusikan tentang ”terobosan jitu” memasarkan buku-buku yang kami terbitkan. Kami sedang sesak oleh gudang yang juga sesak oleh buku-buku yang dikirim kembali dari outlet. Bukannya terjadi percepatan perputaran modal, buku-buku justru kembali ”dengan selamat” dari peredarannya di outlet dan mendekam berdesakan di gudang. Karena itu, mau tak mau kami mesti mendiskusikan tentang ”terobosan jitu”, ”pasar alternatif”, ”samudera biru” atau apapun namanya, untuk menjadikan buku-buku yang sudah kami hasilkan dengan jerih lelah itu dikonsumsi oleh pembaca.

 

Penerbitan: Bukan Bisnis yang Menggiurkan

 

Diskusi seperti ini bukannya kali pertama terjadi di antara para pelaku penerbitan. Di waktu-waktu sebelumnya, berulang kali bahkan, kami dipertemukan dalam kegalauan yang sama meski dengan setting situasi yang sedikit berbeda sesuai zamannya. Namun, inti persoalannya tetaplah sama, yaitu – jika boleh menyebutnya dengan agak dramatis - dibutuhkan semacam tindakan akrobatik untuk menjadikan karya idealis kami dalam bentuk buku-buku itu dikonsumsi oleh pembaca dengan lebih cepat.

 

Betapapun aktivitas penerbitan merupakan suatu usaha, yang seperti halnya usaha lainnya, dipengaruhi oleh percepatan perputaran modal, bidang ini tidak banyak diulas dalam wacana bisnis dan manajemen. Bisa jadi, bidang ini memang tidakcukup menarik bagi para peminat maupun pengamat dunia bisnis karena kurang sensitif terhadap perhitungan kembalinya modal. Bisnis buku bukan pilihan menarik bagi pelaku usaha yang menginginkan pelipatgandaan modal dalam waktu singkat.

 

Nilai prestise dari sebuah usaha penerbitan buku bukan pertama-tama pada seberapa besar dia mampu melipatgandakan modalnya, namun lebih pada seberapa bernilai gagasan yang ditawarkan dan seberapa konsisten perjuangan idealismenya. Produk dari usaha penerbitan buku adalah gagasan. Karenanya, prestise, lebih dari itu bahkan martabat penerbitan, terletak pada kualitas gagasan yang dipublikasikannya. Namun konsekuensinya, pelaku usaha penerbitan menjadi kerap harus rela melakukan tindakan akrobatik alias jungkir balik untuk memutar modal yang tidak cepat kembali.

 

Tegangan antara pilihan konsistensi idealisme dengan tekanan pasar seolah menjadi begitu berseberangan. Padahal secara teori, harus ada jalan untuk menjembatani keduanya. Barangkali benar bahwa idealisme tak seharusnya berseberangan dengan tuntutan pasar. Namun kenyataannya, ditengah masyarakat yang belum membaca, para pelaku usaha penerbitan di Indonesia, masih cukup ribet dengan aktivitas mengedukasi pasar lewat kampanye gemar membaca. Perlu ditemukan cara untuk menjadikan membaca itu sebuah kenikmatan atau keasyikan.

 

Buku, Produk yang Unik

 

Para pelaku usaha penerbitan buku sudah mengalami, bahwa menawarkan gagasan tidak semudah menawarkan barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti makanan, pakaian, atau bahkan pulsa handphone. Meski, secara idealis tetaplah diyakini, bahwa buku merupakan media yang unik karena memungkinkan orang mengalami komunikasi antarpersonal sekaligus intrapersonal. Melalui sebuah buku, pembaca bisa merasakan kenikmatan berkomunikasi ide dengan si penulis buku, tetapi juga sekaligus dengan dirinya sendiri. Itulah sebabnya, buku dengan isi gagasan yang berkualitas mampu mengajak orang berpikir lanjut, mengalami penceraham, serta mengritisi diri sendiri dan sekelilingnya. Dengan buku yang berkualitas, orang akan mengalami pendewasaan pribadi.

 

Buku sebenarnya juga bisa menjadi media komunikasi yang memungkinkan proses sharing ide antarmanusia terjadi tanpa mensyaratkan perjumpaan secara fisik dan langsung. Memang, dalam hal ini sifat personal yang sangat mempengaruhi kepenuhan makna kehadiran menjadi terkurangi. Namun belakangan, teknologi digital dengan kemampuan interaktif dan atraktifnya telah menjadi jembatan dalam persoalan ini. Jembatan ini bisa jadi merupakan jalan pula bagi penerbit buku untuk mengatasi masalah-masalah klasik seputar kendala pergudangan, tingginya ongkos kirim, dan keterbatasan outlet distribusi.

 

Tanpa kehadiran fisik, kini seseorang dapat berkomunikasi secara interaktif bahkan atraktif dengan orang lain melalui sarana komunikasi digital seperti internet. Jejaring sosial dapat dibentuk dengan jauh lebih efektif dan penuh afeksi dengan sarana komunikasi digital facebook, twitter, linked in, netlog, dan lain-lain. Teknologi digital telah memungkinkan pendekatan komunikasi secara massif sekaligus personal dan individual. Dan, para pelaku usaha penerbitan seperti mendapat ruang segar untuk menggali kemungkinan-kemungkinan kreatif penyampaian gagasan secara lebih atraktif dibanding dengan buku cetakan yang pasif.

 

Buku dan Teknologi Digital

 

Cepat atau lambat, fenomena digital agaknya akan mengubah dinamika usaha penerbitan di Indonesia. Jika sekitar lima tahun lalu sempat terjadi euforia prbukuan yang menggeser karakteristik penerbitan buku, dari edukatif idealis menjadi entertain dan gaya hidup, boleh jadi karakteristik itu akan menguat lagi seiring dengan semakin meluasnya akses internet dan memasyarakatnya perangkat baca buku digital. Seperti lima tahun lalu ketika tiba-tiba buku dan outletnya bersolek dan masuk ke pergaulan kafe, sangat mungkin sebentar lagi buku berpadu dengan keasyikan game digital.
 

Masyarakat yang semakin melek digital akan mengenakan teknologi digital sebagai salah satu aspek gaya hidup dan entertainnya. Generasi digital akan berkomunikasi, bertukar gagasan, sekaligus bermain dengan perangkat digital.

 

Para pekerja buku mesti menjawab datangnya era digital ini dengan antusiasme, kreativitas, inovasi, dan kontekstualitas yang mampu menyapa pembaca potensialnya. Buku tak lagi harus dilahirkan dalam bentuk konvensional, dengan cetakan fisik yang membatasi gerak seseorang jika harus membawanya dalam jumlah banyak di tengah kesibukannya yang padat. Dengan e-book yang dapat diunduh melalui internet, atau alat-alat digital seperti notebook, Ipad, Ipod, Android, dan lain-lain, penerbit dapat menerbitkan buku-buku tebal dan bernilai tanpa mengeluarkan investasi besar pada bahan baku cetak. Penerbit juga tidak harus pusing dengan tumpukan buku yang “kembali dengan selamat” ke gudang setelah perjalanan keliling outlet tanpa tersentuh pembeli. Inilah saat di mana ”ruang bermain” bagi para pekerja buku menjadi begitu luas, sekaligus menantang untuk bermain dengan cerdas dan ulet.

 

Bentuk dan kemasan boleh berubah, tapi satu hal yang tidak berubah dari dunia penerbitan adalah roh idealisme di balik semua sajian kreatif yang dilahirkannya. Konsistensi penerbit dalam menggumuli usahanya akan terukur dari seberapa gigih penerbit yang bersangkutan memelihara kualitas gagasan yang ditawarkannya dalam aneka kemasan. Untuk ini bolehlah kita berharap pada para pekerja kreatif dunia perbukuan di Indonesia, yang selama ini saya kenal cenderung militan. Banyak dari mereka yang mencintai dunia idealisnya lebih dari sekadar peluang finansialnya.

 

Pameran-pameran buku, baik yang fisik maupun virtual di masa depan, akan dibanjiri oleh bermacam bentuk, jenis, tema, dan judul buku dari ratusan penerbit di Indonesia. Keterengahan ekonomi semoga tidak menghentikan lahirnya karya-karya kreatif insan perbukuan. Kegalauan teman-teman pelaku perbukuan terhadap lesunya pasar buku, semoga tidak menjadikan mimpi dan idealisme kandas begitu saja.

 

Selalu ada jalan bagi orang-orang kreatif, untuk menyampaikan idealismenya dengan cara yang ”tak terbayangkan”, begitu kurang lebih spirit para pekerja dunia ide ini. Spirit seperti inilah yang akan memberi warna pada peradaban. Spirit seperti inilah yang menjadikan usaha penerbitan akan tetap berlangsung di tengah ”aturan main” yang kerap tidak menguntungkan sekalipun.

 

Selamat bermain ide, berbisnis buku, di dunia virtual ....

 

 

Mg. Sulistyorini

Penulis adalah Pjs Direktur

Penerbit-Percetakan Kanisius yang 90 tahun berkarya di dunia penerbitan



*Artikel ini dimuat dalam dua tulisan di Harian Bernas Jogja pada tanggal 26 & 27 Januari 2012 (merupakan bagian dari artikel yang akan dimuat setiap bulan di Harian Bernas).










*east