Thomas Hidya Tjaya adalah pengajar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta. Setelah menyelesaikan program S2 filsafat di Fordham University, New York, pada tahun 1998, ia bekerja di East Asian Pastoral Institute dan mengajar filsafat di Ateneo de Manila University, Filipina. Pada bulan Mei 2003 ia memperoleh gelar Master of Divinity (M.Div.) dan Master of Theology (Th.M.) dari Weston Jesuit School of Theology, Cambridge, Massachusetts. Mulai pertengahan tahun 2004 ia menempuh studi doktoral dalam bidang filsafat di Boston College, Massachusetts, dan meraih gelar Ph.D. pada bulan Desember 2009. Buku-buku yang sudah diterbitkannya antara lain Humanisme dan Skolastisisme: Sebuah Debat (Kanisius, 2004), Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri (Kepustakaan Populer Gramedia, 2004), Peziarahan HATI (Kanisius, 2011), dan Enigma Wajah Orang Lain: Menggali Pemikiran Emmanuel Levinas (Kepustakaan Populer Gramedia, 2012).

Buku-buku yang ditulisnya memperlihatkan minat dasarnya terhadap hakikat kehidupan manusia. Buku Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri, misalnya, menggambarkan hasrat dan perjuangan setiap manusia untuk menjadi dirinya sendiri tanpa didikte oleh pihak manapun, termasuk masyarakat. Di sini pembaca diajak mendalami pengalaman dan pandangan filsuf Denmark, Søren Kierkegaard (1813-1855). Kierkegaard menunjukkan bahwa keputusan hidup untuk menjadi diri sendiri seringkali harus diambil dengan rasa takut dan gentar (fear and trembling).

Buku Peziarahan Hati yang diterbitkan oleh Kanisius ditulisnya untuk mengajak pembaca masuk ke dalam inti eksistensi manusia. Pernahkah Anda bertanya mengapa kehidupan manusia hanya bersifat sementara saja dan harus berakhir dengan kematian? Kalau Anda percaya bahwa Tuhanlah yang menciptakan manusia, mengapa manusia diciptakan dengan sifat kehidupan yang demikian? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menyangkut tujuan hidup manusia yang sebenarnya, dan bukan tujuan hidup seperti kita cita-citakan atau dambakan. Tanpa kesadaran akan tujuan hidup yang sebenar-benarnya, kita dapat dengan mudah membuang-buang waktu kehidupan kita untuk hal-hal yang tidak penting.

Mengapa manusia dapat dengan mudah menyingkirkan dan bahkan membunuh orang yang tidak disukainya? Mengapa pula manusia tega menghabisi sesamanya demi ajaran atau ideologi tertentu? Pertanyaan seperti ini tentunya menghantui banyak orang, khususnya mereka yang pernah mengalami kekerasan, konflik, dan peristiwa yang layak disebut ‘tragedi kemanusiaan.’ Buku Enigma Wajah Orang Lain mengupas pemikiran filsuf Perancis, Emmanuel Levinas (1906-1995), yang kehilangan hampir semua anggota keluarganya dalam peristiwa Holocaust yang dilakukan oleh pihak Nazi Jerman. Levinas memperkenalkan konsep ‘wajah orang lain’ (the face of the Other) yang sesungguhnya memperlihatkan dimensi transenden kalau saja kita membiarkannya menyingkapkan diri kepada kita.

The unexamined life is not worth living, demikian ungkap Sokrates. Manusia dapat menjalani hidup ini dan mengejar semua ambisinya tanpa tahu ke mana ia sesungguhnya pergi dan untuk apa hidup ini sebenarnya. Padahal, manusia sering dipandang sebagai hewan yang rasional (a rational animal). Mestinya rasionalitas menuntun manusia untuk memahami dan menyadari hal-hal yang esensial bagi kehidupannya. Membaca buku-buku di atas barangkali dapat membantu Anda untuk menyadari hakikat kehidupan manusia yang sebenarnya.


Buku-buku karya Thomas Hidya Tjaya