Inspirasi Hari Ini

  • Ketika diri kita menjadi “orang sulit”


     

    Ketika diri kita menjadi “orang sulit”, kita terjebak dan berpusat pada diri. Hal ini menyebabkan kita kurang bisa melihat dunia secara realistis-objektif. Apa yang kita persepsikan sering dibiaskan oleh kebutuhan-kebutuhan diri, pikiran-pikiran tidak rasional, harapan-harapan, dan prasangka kita. Misalnya, ketika pendapat kita tidak disetujui, kita bisa menganggap bahwa orang tersebut secara pribadi menolak dan tidak menyukai kita. Ketidaksetujuan terhadap gagasan, kita interpretasikan sebagai penolakan atas diri kita. Prasangka ini sebenarnya bersumber pada kebutuhan kita atas penerimaan orang lain, sehingga kita secara mudah mengasumsikan perbedaan pendapat atau pun evaluasi dari orang lain sebagai penolakan.


    Penilaian kita atas perilaku dan motivasi orang lain juga sering dibiaskan oleh ketidakmampuan kita melihat motivasi orang lain secara objektif. Kita kurang menyadari bahwa hal-hal yang kita tuduhkan kepada orang lain sebenarnya adalah sifat-sifat, karakter, maupun motivasi diri sendiri. Dalam istilah psikologi, fenomena ini disebut sebagai proyeksi, yaitu menganggap dorongan, perasaan, dan sentimen pribadi sebagai milik orang lain atau dunia di luar dirinya. Contohnya, jika kita sering melarikan diri dari tugas dan tanggung jawab dengan berpura-pura sakit, maka ketika ada teman kita yang benar-benar sakit, kita menuduhnya hanya berpura-pura karena ingin melarikan diri dari tanggung jawab.


    Teks diambil dari buku Orang Sulit: Fakta dan Persepsi, Kenali Kepribadian Anda, Tjipto Susana, Kanisius, 2014.