Inspirasi Hari Ini

  • Ketakutan untuk Berubah


    Betapa sukar beralih menjadi seorang vegetarian. Hal ini kualami sendiri. Semula aku menyangka, tidak makan daging bisa merupakan tindakan asketis, seperti dilakukan umat katolik di masa Prapaska. Hanya saja hal itu tidak dijalankan tiap hari Jum’at saja, melainkan seterusnya. Komitmen “untuk seterusnya” inilah kiraku yang terasa berat. Tentu saja berat, kalau hal itu dilihat sebagai tindakan mengurangi apa yang normal. Akan tetapi mungkin vegetarianisme harus dipandang bukan sebagai askese, melainkan sebagai perubahan pola makan yang baku, yang lebih sehat. Hal ini sudah dijalankan oleh Mahatma Gandhi dan para pengikutnya, juga oleh sebagian besar umat Hindu dan Buddha. Pernah dengar juga analisa tentang vegetarianisme sebagai pola makan manusia yang asli. Makan daging merupakan perkembangan lebih lanjut,  ketika manusia menjadi semakin buas. Tetapi kalau begitu, mengapa kembali menjadi vegetarian, ke pola makan yang asli dan yang lebih sehat menjadi sulit? Karena evolusi itu sudah berlangsung selama beribu-ribu atau bahkan berjuta tahun. Kita sudah terbiasa dengan faham dan pengalaman bahwa makan daging merupakan hal yang normal. Makan daging sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari, mendarah daging dan berakar dalam struktur mental kita.


    Kesulitan dalam mengubah pola makan seperti itu dapat menjadi cermin yang jelas juga untuk memahami, betapa sukarnya mengubah budaya patriarki. Gerakan feminisme menyadarkan kita bahwa patriarki merupakan pola hidup bersama yang tidak sehat, karena penuh dengan dominasi dan penindasan yang tidak adil terhadap gender perempuan. Namun banyak orang tidak merasakan dan tidak sampai pada kesadaran seperti itu. Patriarkisme sudah berlangsung begitu lama, berakar dalam struktur mental yang berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Kita sudah terbiasa dengannya dan merasa nyaman, serta takut untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang lain, yang baru, yang belum jelas benar. Memang, feminisme tak kurang-kurangnya menjelaskan pola kehidupan baru yang lebih peduli pada sesama, yang lebih menekankan solidaritas dan kerjasama dalam jejaring daripada hirarki yang menekan komando dan instruksi dari atas. Namun ketakutan pada krisis kepemimpinan dan kekhawatiran jangan-jangan bubarnya pola hidup patriarkis akan mengakibatkan kehancuran manusia telah menghambat gerak perubahan sosial yang diharapkan.


    Ketakutan yang sama bisa dilihat dalam kehidupan beragama. Agama-agama sudah terbiasa dengan pikiran untuk memutlakkan ajarannya sendiri seraya menyalahkan ajaran agama-agama lain. Sementara itu pluralisme menawarkan pikiran baru, yakni kenyataan bahwa agama-agama itu serba berbeda satu sama lain, sehingga tak bisa dibandingkan. Pengakuan tentang kebenaran agamanya sendiri memang tidak keliru, tetapi menyalahkan agama lain dengan ukuran agamaku tidak bisa dianggap sahih, sebab sudut pandangan agama-agama itu juga berbeda-beda secara radikal. Pluralisme tentu saja menakutkan, karena implikasinya kebenaran agama menjadi tidak mutlak lagi. Kebebasan beragama menjadi sedemikian besar, sehingga dengan mudah orang bisa berpindah dari agamaku ke agama orang lain. Kalau pluralisme diterima, Allah Yang Mahaesa sama sekali tidak dihancurkan. Yang hancur hanyalah kesombongan beragama yang eksklusif dan tertutup terhadap segala macam perubahan dan pembaruan.***

     

    Teks diambil dari buku Masih Ada Orang Baik di Sekitar Kita, A. Sudiarja, S.J., Kanisius, 2014