Inspirasi Hari Ini

  • Hidup Adalah Seni

     

    Irving Stone penulis Novel The Agony and the Ecstacy, melukiskan dengan amat mengharukan, kekecewaan Michelangelo terhadap Paus Julius II yang menahannya di Vatikan untuk membuat lukisan besar di langit-langit kapel Sistina. “Saya seorang pematung”, kata Michelangelo, “Bukan Pelukis”. Dan Ia menyalahkan Sri Paus karena tidak memberinya kesempatan untuk membuat patung. “Saya membuatmu menjadi besar”, Kata Paus Julius II.

     

    Benar saja, kerja keras Michelangelo tidak sia-sia. Empat tahun kemudian ketika lukisan “Penciptaan” yang megah membentang dari altar hingga ke dinding belakang kapel selesai, orang berdatangan untuk mengaguminya. Lukisan itu menjadi pusat perhatian para pengunjung Vatikan bahkan hingga sekarang.

     

    Lukisan tersebut adalah persembahan Michelangelo yang sangat bernilai bagi Gereja, mungkin bagi Tuhan juga. Tugas tersebut tidak mengurangi kemampuannya sebagai pembuat patung. Ia memang seorang pemahat yang baik, namun berkat penugasan Sri Paus, menjadi ketahuan bahwa Ia pun seorang pelukis yang unggul.

     

    Michelangelo adalah seorang seniman yang besar, namun kebesarannya rupanya tidak ia nikmati sendiri. Hasil karyanya menjadi lebih bernilai karena ia persembahkan kepada Tuhan. Karya-karya seninya banyak tersebar di berbagai gereja, berupa patung dan lukisan. Kesenian yang dia satukan dan dia arahkan dalam kepentingan kegerejaan itu telah membuat Michelangelo menjadi seorang seniman yang penting bagi Gereja.

     

    Kita sering mengira bahwa kita menjadi “besar” karena usaha kita sendiri, yakni kalau kita bisa memenuhi keinginan-keinginan dan cita-cita yang kita rancang sendiri. Kita terkadang kurang rendah hati untuk mengakui, bahwa banyak kali keberhasilan pekerjaan kita tergantung pada banyak pihak, termasuk orang-orang yang kita layani dalam pekerjaan kita. Sesungguhnya, kita menjadi “besar” berkat orang-orang lain. Merekalah yang membesarkan kita.

     

    Maka pekerjaan yang kita persembahkan kepada Tuhan, betapapun sederhananya menjadi pekerjaan yang bernilai religius. Dalam hidup hendaknya kita senantiasa bersyukur kepada Tuhan dan banyak orang lain yang “membesarkan” kita melalui pekerjaan-pekerjaan itu. Dengan nada romantis, mungkin bisa kita katakan bahwa hidup kita menjadi suatu karya seni. Seni yang diukur tidak dari besarnya jasa atau manfaat yang kita hasilkan, melainkan dari keindahan yang muncul dari ketulusan hati kita yang bekerja demi sesama dan demi kemuliaan Tuhan.

     

    Teks diambil dari buku “Menjadi Semakin Insani", A. Sudiarja, S.J., Kanisius, 2014.