Inspirasi Hari Ini

  • Tantangan Dunia

     

     

    Dewasa ini, kemanusiaan mengalami titik balik dalam sejarahnya, sebagaimana kita dapat lihat dari kemajuan yang dibuatnya di banyak bidang. Kita hanya dapat memuji langkah-langkah yang diambil untuk memajukan kesejahteraan rakyat di bidang-bidang seperti pemeliharaan kesehatan, pendidikan, dan komunikasi.

     

    Pada waktu yang sama, kita tak boleh melupakan kenyataan bahwa mayoritas laki-laki dan perempuan di zaman kita ini, hanya bisa menghidupi dirinya hari demi hari dengan segala ketidakpastian dengan konsekuensi-konsekuensi yang mengerikan. Sejumlah penyakit patologis menyebar. Ketakutan dan keputusasaan mencekam hati banyak orang, bahkan juga di negeri-negeri yang disebut kaya.

     

    Sukacita untuk hidup begitu cepat lenyap. Sikap kurang hormat terhadap orang lain dan kekejaman meningkat. Ketimpangan menjadi semakin nyata. Dibutuhkan perjuangan keras untuk hidup, terutama untuk hidup dengan sedikit martabat yang berharga. Perubahan zaman ini digerakkan oleh lompatan-lompatan yang luar biasa, dari sisi kualitatif, kuantitatif, kecepatan maupun akumulatif.

     

    Lompatan-lompatan semacam itu sungguh-sungguh terjadi di bidang ilmu-ilmu dan teknologi, beserta aplikasi langsungnya di dalam lingkungan dan wilayah hidup yang berbeda-beda. Kita berada di zaman ilmu pengetahuan  dan informasi yang telah mengakibatkan pelbagai macam wujud-wujud baru kekuatan yang kerap kali anonim.

     

    Persis, seperti halnya perintah “Jangan membunuh!” telah menentukan batas yang jelas untuk memberi jaminan dan melindungi nilai kehidupan manusia, kini kita pun harus mengatakan “Tidak! Terhadap suatu tata ekonomi yang menyingkirkan orang lain dan menciptakan ketaksetaraan"

     

    Tata ekonomi semacam itu membunuh. Tidaklah mungkin kalau tidak menjadi catatan, adanya kenyataan bahwa gelandangan tua meninggal karena kedinginan tak menjadi berita, tetapi jika harga saham turun dua angka itu disebut berita? Inilah contoh penyingkiran manusia. Dapatkah kita terus berdiam diri saja saat makanan dibuang-buang sementara rakyat mati kelaparan? Inilah contoh ketaksetaraan.

     

    Dewasa ini, setiap hal masuk ke dalam permainan persaingan dan hukum siapa kuat ia menang, di mana yang kuat hidup memakan yang lemah. Sebagai konsekuensinya, sekelompok besar masyarakat merasa disingkirkan dan dipinggirkan: tanpa pekerjaan, tanpa masa depan, dan tanpa jalan keluar. Manusia sendiri diperlakukan seperti benda konsumsi yang setelah digunakan, langsung dibuang. Kita sudah menciptakan budaya ‘sekali pakai buang’ yang kini telah meluas ke mana-mana. Gejala ini berkembang menjadi penyingkiran manusia yang pada akhirnya menjadi bagian masalah masyarakat di mana kita hidup. Beranikah kita melakukan terobosan?

     

    Teks diambil dari buku "EVANGELII GAUDIUM SUKACITA INJIL", R.F. Bhanu Viktorahadi, Pr, Kanisius, 2015. (Segera Terbit)

     Ilustrasi gambar diambil dari harisj