Inspirasi Hari Ini

  • Hidup (to live) atau Bertahan Hidup (to survive)?

     

    Ketika Hannah Arendt, seorang filsuf Amerika keturunan Yahudi itu, mengalami kecelakaan, yakni ketika taksi yang ditumpanginya ditabrak sebuah truk di Central Park, ia pingsan sebentar. Ketika siuman, ia mencoba menyadari apa yang terjadi pada dirinya. “Aku mencoba merentangkan tangan dan kakiku, sadar bahwa aku tidak lumpuh dan kedua mataku dapat melihat. Lalu kucoba ingatanku – dengan hati-hati, meniti tahun demi tahun, syair-syair, bahasa Yunaniku, Jerman dan Inggris, lalu nomer-nomer telpon. Segalanya masih beres. Persoalannya adalah, bahwa dalam sesaat aku mempunyai perasaan bahwa hidup atau matiku tergantung pada keputusanku, apakah aku mau hidup atau mati saat itu. Dan meski kupikir kematian tidaklah mengerikan, namun aku juga berpikir bahwa hidup itu lebih indah dan karenanya aku putuskan untuk hidup.”

     
    Perasaan semacam ini barangkali hinggap pada banyak orang ketika mengalami musibah. Dalam peristiwa-peristiwa seperti itu, ketika pertolongan tidak bisa diharapkan dengan segera, orang harus memutuskan apa yang harus dilakukannya. Mengambil sepotong kayu untuk pegangan ketika kapal yang ditumpanginya karam, berlindung di balik meja ketika gempa dahsyat terjadi, merangkak dalam terowongan untuk mencari jalan keluar dan sebagainya. Banyak orang mati dalam musibah, karena ia tidak dapat bertahan dalam keadaan berat. Mungkin karena hidupnya sudah terbiasa enak, kaya, dilayani orang lain, mempunyai banyak fasilitas dan sebagainya.

     
    Oleh karena itu, sebetulnya tidak usah menunggu mengalami musibah untuk bertahan hidup. Orang-orang kaya dan manja, bisa jadi sudah tidak menghayati hidupnya, selagi masih hidup. Sementara orang-orang miskin, yang berjuang keras untuk mencari sesuap nasi, selalu berusaha hidup meski pun keadaannya mematikan. Bahasa Inggris membedakan kata to live dan to survive. Kata yang kedua memperlihatkan perjuangan dan kemenangan, karena mengalahkan tantangan dan kesulitan, sementara kata yang pertama hanya menyatakan keadaan tidak mati, yang berlaku juga untuk binatang. Life (hidup) itu diberikan oleh orang tua, ketika kita dilahirkan, tetapi survival (bertahan hidup) merupakan usaha kita untuk melanjutkan apa yang telah diberikan baik oleh orang tua maupun Tuhan. Tanpa adanya usaha, kita hanya menyia-nyiakan anugerah itu dalam kehidupan kita. Orang tua yang bijaksana mendidik anak-anaknya untuk bertahan hidup, tetapi orang tua yang bodoh, memberikan jaminan-jaminan berupa warisan harta benda bagi anak-anaknya untuk hidup saja.

    Kita masih lebih sering menganggap hidup sebagai nasib yang sudah ditentukan, kurang diangkat kenyataan bahwa hidup kita, tergantung dari keputusan kita sendiri. Anak muda yang tidak menyadari hal ini lebih suka bermalas-malasan dan mencari enaknya sendiri dalam banyak hal. Mereka menjadi korban narkoba, menjalani kehidupan bebas, atau melakukan kriminal. Mereka sebenarnya telah mati selagi masih hidup.***

     

    Teks diambil dari buku Seri Remah-Remah Rohani: Masih Ada Orang Baik di Sekitar Kita, A. Sudiarja, S.J., Kanisius, 2014