Inspirasi Hari Ini

  • Pribadi yang mempesona setiap orang

     

    Bagaimana menjadi pribadi yang mempesona dan tak terlupakan?

     

    Suatu ketika ada peristiwa yang tak bisa kami lupakan. Suatu hari ibu-ibu paroki mendapat tugas mempersiapkan uba rampe rapat Pleno Dewan Paroki yang akan dihadiri lebih kurang 70 orang. Sudah sampai pukul 20.00 WIB peserta yang hadir baru sedikit. Ketika Rama Kardinal masuk pastoran lewat dapur dan melihat kami sedang mempersiapkan uba rampe, dengan nada tinggi Beliau berkata “Lho jajanane kog akeh banget niku pripun? Sing teko mung sithik, sing ajeng mbayari sinten ?” lalu Rama masuk ke ruang rapat Dewan Paroki. Kami semua merasa terkesiap, karena kami menyiapkan uba rampe sesuai dhawuh. Ibu Sumitro selaku ketua ibu-ibu Paroki memberikan jalan keluar. “Nanti setelah rapat selesai, sisa snack kita kumpulkan dan kita bagi lima dan kita masing-masing membeli snack  tersebut untuk  ngijoli sesuai dengan harga toko.”

     

    Kami berlima setuju. Lima menit kemudian Rama Kardinal masuk dan membuka pintu dapur sambil berkata, “Ra nggenah, ibu-ibu bengi-bengi ninggalke omah ning pastoran kon biyantu Romo Paroki, malah kon mbayar sisane snack ki piye karepe ? Iki ana duwit, wis tak bayarane”.

     

    Untuk kedua kalinya kami terkejut lagi dan spontan kami menjawab “Sampun Rama”. Tetapi Rama Kardinal bersikeras untuk maringi uang dan kami tidak jadi patungan membeli sisa snack rapat malam itu. Spontan kami segera merangkul samparan Rama Kardinal sambil menangis bagaikan Maria Magdalena memeluk kaki Tuhan Yesus dan bersimpuh di hadapanNya.

     

    Di kala senggang Rama Kardinal sering menceritakan riwayat masa kecilnya kepada kami. Ia bercerita bahwa ajaran tentang sopan-santun dari Ibundanya sangat indah. Bila Rama diminta memberi sedekah kepada pengemis yang datang sambil berjongkok, maka Rama juga harus berjongkok dalam memberikan sedekahnya sejajar dengan pengemis tersebut, karena pengemis tersebut lebih tua. Mereka juga harus dihormati apapun statusnya.

     

    Itulah nilai-nilai ajaran keluarga Rama Kardinal yang sangat mulia dalam menghormati harkat dan martabat manusia, meski manusia itu papa sekalipun.

     

     

    Teks diambil dari Jangan mengejar harta, kejarlah Surga (masa senja Kardinal Darmojuwono), Kanisius, 2014