Inspirasi Hari Ini

  • Revolusi atas Cara Hidup

     

    Pertama kalinya dalam sejarah, manusia bisa hidup sehat di atas usia 60 tahun. Inilah salah satu keajaiban dari dunia kedokteran modern yang telah berhasil memusnahkan beragam penyakit mematikan bagi manusia. Di abad-abad sebelumnya, orang yang berusia 50 tahun sudah dianggap luar biasa. Mayoritas hanya menikmati hidup sampai usia 40 tahun atau bahkan 30 tahun karena dihantam penyakit, atau kecelakaan maut lainnya.

     

    Namun, jika dipikirkan lebih dalam, 70 tahun usia manusia modern, dengan asumsi dukungan pelayanan kesehatan yang memadai, pun termasuk pendek, terutama jika dibandingkan dengan usia alam semesta yang lebih dari milyaran tahun lamanya. Di dalam hidup yang pendek tersebut, banyak orang hidup menderita, entah menderita secara fisik atau batin. Banyak orang harus berjuang keras sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Di sisi lain, banyak orang mengalami kehampaan hidup yang akut, sehingga mereka mengalami masalah kejiwaan.

     

    Lalu, bagaimana kita harus hidup? Ini adalah pertanyaan yang paling penting, yang harus dipikirkan dan coba dijawab terlebih dahulu. Setiap orang lahir di dunia ini membawa sesuatu dalam dirinya. Sesuatu itu adalah panggilan hati. Biasanya, ini terlihat dalam bentuk bakat. Orang yang terpanggil hatinya untuk menjadi penyanyi biasanya memiliki suara yang indah untuk menyanyi. Orang yang terpanggil untuk menjadi atlit biasanya memiliki bakat olah raga.

     

    Maka langkah pertama adalah mengenali diri sendiri, apa panggilan hati kita, dan apa bakat-bakat kita. Dengan pengetahuan ini orang lalu bisa mengembangkan dirinya, kemampuan yang sudah ada dalam dirinya, ia lalu bisa membantu orang lain. Hanya dengan mengikuti panggilan hatinya orang bisa mendapatkan kepenuhan dalam hidupnya sekaligus memberikan kontribusi nyata yang baik untuk masyarakatnya. Inilah yang sebaiknya menjadi arah hidup setiap orang.

     

    Teks diambil dari buku "Filsafat Sebagai Revolusi Hidup", Reza A.A. Watimena, Kanisius, 2014.

    Ilustrasi gambar diambil dari harisj