Inspirasi Hari Ini

  • Tuhan Bersabda Lewat Hati Kita

     

    Pengenalan akan seseorang tidak selalu berakibat positif. Kadang tidak kenal membuat kita bisa mengagumi pribadinya; bisa mendengar dan menerima apa yang diomongkan. Tetapi, saat kita kenal siapa dia, dari keluarga apa, rumahnya di mana, siapa saudara-saudaranya, apa pekerjaannya, orang bisa berubah pandangannya: bisa semakin mengagumi atau sebaliknya, menolak. Itulah risiko pengenalan akan seseorang.

     

    Pengalaman seperti itu juga dialami oleh Yesus sendiri. Coba kita simak apa yang dilakukan oleh orang orang di tempat ibadat setelah Yesus selesai membaca Kitab Suci. “…mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. …Semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya” (ay. 20.22). Pada awalnya baik, mengagumi, heran, berdecak, menarik, dst. Setelah mereka mengenali siapa Yesus, asal-Nya, keluarga dan saudara-saudara-Nya, mulailah keluar kata-kata sindiran dan akhirnya penolakan. Kita pun sering bersikap seperti itu. Pikiran dan cara pandang manusiawi kita membelokkan apa yang baik menjadi sikap mencibirkan dan menolak. Bahkan gosip-gosip negatif terus keluar. Untuk apa? Supaya orang itu dinilai tidak baik; supaya jatuh dan tidak ada yang mengagumi lagi, bahkan malah sebaliknya: menolak!

     

    Kita tidak perlu kaget bila kita juga seperti mereka. Itu berarti bahwa sabda Tuhan Yesus belum mengakar dan meresap sampai ke dalam hati dan budi kita. Sabda Tuhan belum mengubah perilaku dan cara kita bertindak. Sabda Tuhan baru sampai pada mulut kita, belum menjadi makanan dan sari-sari makanan yang merasuki sumsum, tulang, dan daging kita. Kita masih harus mengunyahnya, mencecap, dan menelannya. Itulah meditasi. Itulah yang kita buat saat ini: memberi waktu pada Sabda Tuhan dalam keheningan dan mendengarkan Tuhan bersabda lewat hati kita. Selamat merenung. Tuhan memberkati. (JK)

     

    Teks diambil dari buku Inspirasi Batin 2016 Jilid 1 (Januari-April) halaman 92