Inspirasi Hari Ini

  • Tuhan sebagai Sumber Hidup

     

    Mungkin Anda pernah mengalami saat-saat yang paling menyesakkan dalam hidup ketika menyaksikan satu-satunya penolong yang dapat menyelamatkan berlalu dan lenyap dari hadapan Anda. Saya pernah menjadi salah seorang anak  yang  terlampau  dini  mengalami  peristiwa  menyesakkan  di  tengah  konflik  politik  di pedalaman Papua (Irian Barat) pada tahun 1969, ketika saya berusia sembilan tahun. Saat itu, saya melihat sebuah pesawat terbang melintas di udara tanpa dapat mendarat untuk menyelamatkan saya dan seluruh keluarga guru-guru karena lapangan terbang telah dipenuhi tiang-tiang pancang. Dari jendela rumah, saya hanya menatap pesawat itu terbang menghilang. Dengan dada yang terasa sesak saya menjerit tertahan, “kami masih di sini!!” tetapi semua sia-sia. Orang-orang yang telah lama saya kenal baik, telah berbalik memusuhi dan menghalangi kami untuk mendapatkan pertolongan.

     

    Saya mencoba memproyeksikan pengalaman yang menyesakkan dada itu ke dalam diri Bartimeus yang buta. Mungkin pengalaman saya yang menyesakkan dada itu dialami pula  oleh  Bartimeus  yang  nyaris  kehilangan  penolong  yang  sedang  melintas,  yaitu  Yesus, ketika  sedang  dalam  perjalanan  keluar  dari  Yerikho.  Bartimeus  nyaris  kehilangan  satusatunya penolong justru oleh orang-orang yang menghalangi dan menyuruhnya diam ketika ia  berseru:  “Yesus,  Anak  Daud,  kasihanilah  aku!”  Namun,  Bartimeus  sadar  dan  percaya bahwa inilah satu-satunya kesempatan untuk diselamatkan dari kebutaan, dan hal itu hanya dapat dilakukan oleh Yesus, si orang Nazaret, sebelum Ia menghilang dari kota Yerikho.

     

    Oleh karena itu, dengan dorongan kemendesakan yang sangat, semakin keras ia berseru… dan Yesus mendengarnya. Bartimeus pun terbebas dari kebutaan yang menggelapkan dan menyesakkan hidupnya. Syukurlah!Kini saya mengajak para perenung untuk menempatkan diri bukan sebagai Bartimeus yang kita kenal ‘ngototnya’ itu melainkan sebagai orang yang sedang berjumpadengan Bartimeus-Bartimeus masa kini. Tak dapat dimungkiri bahwa kita dapat saja menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang menjadi penghalang atau berusaha menghalang-halangi sesama yang membutuhkan pertolongan pada saat mengalami kesesakan dalam hidupnya. Bila perilaku itu memang ada dan sedang hidup dalam diri kita, maka Santo Petrus mencoba menyentuh ruang rohani kita dengan ulasan yang indah tentang hakikat diri kita yang sebenarnya. Kita adalah umat yang terpilih, umat yang kudus, umat kepunyaan Allah. Kita adalah umat yang dipanggil keluar dari kegelapan menuju kepada terang-Nya yang ajaib.

     

    Waw luar biasa! Jadi bagaimana?? Ya, jangan memalukan. Baiklah kita berbenah diri agar dapat dipergunakan oleh Tuhan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani.  Rumah  di  mana  Bartimeus-Bartimeus  pada  zaman  ini  dapat  berjumpa  dengan Sang Juru Selamat dan mengalami karya-Nya yang menyelamatkan melalui kehadiran dan pelayanan kita. (WID)

     

    Baiklah kita berbenah diri agar dapat dipergunakan oleh Tuhan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani.

    Teks diambil dari buku Inspirasi Batin 2016 Jilid 2 (Mei-Agustus) halaman 77