Sebelum membaca informasi acara di bawah ini, silakan saksikan terlebih dahulu apa yang dikatakan Rm. J. Sudrijanta, SJ. melalui video ini : Titik Hening, Meditasi Tanpa Objek.



melalui keheningan untuk pembebasan diri dan perspektif baru dalam mengolah hidup batin

 

bersama : J. Sudrijanta, SJ

(pendamping  meditasi, penggiat sosial, penulis buku, Imam Jesuit, pengelola website www.meditativestate.wordpress.com)
 




 

Pelaksanaan :

Minggu, 22 Juli 2012, pk. 09.30-12.30 WIB

Ruang Kepodang, Taman Komunikasi Kanisius

Jl. Cempaka 9 Deresan Yogyakarta

 

Kontribusi :

Rp 15.000 (pengganti konsumsi) atau

Rp 35.000,- (+ buku “Titik Hening, Meditasi Tanpa Objek”)

 

Informasi dan Pendaftaran :

Telp. 0247-588783 (Ismi);  SMS 0819 563 4576

E-mail: showroom@kanisiusmedia.com

FB: showroom krc kanisius   

 

Acara ini terbuka bagi  siapa pun  Anda,

dari  keyakinan mana pun,

berapa pun kadar kebimbangan  diri,

stabil dan mapannya  kehidupan Anda,

atau setitik keraguan Anda akan Tuhan.

 

Pendaftar sebelum 19 Juli 2012, berkesempatan mendapatkan doorprize senilai Rp 300.000,-
Pendaftaran ditutup tanggal 20 Juli 2012.

 

Di bawah ini ada sebuah testimoni dari peserta meditasi

 

Testimoni CW, 58 tahun, Psikolog Senior

 

Sulit untuk mulai menulis dari mana. Sepulang retret meditasi 1 Januari 2012, saya dipenuhi semangat untuk menuliskan pengalaman semasa retret. Namun semangat itu amat simpang siur. Ada semangat ingin berbagi. Lalu ada perasaan bahwa semua itu hanyalah ego yang ingin memperkuat diri. Ada keraguan apakah memang pantas. Semua konflik batin ini menutup realisasi keinginan menulis.

 

Lalu saya membaca buku Titik Hening – Meditasi Tanpa Objek. Di situ saya menemukan semua pergolakan, keraguan, dan jawaban atas beberapa kebingungan. Juga menemukan sharing yang serupa dengan pengalaman pribadi saya.

 

Selanjutnya terlarut dalam kehidupan yang harus dihadapi dari hari kehari.

 

Yang saya temukan kemudian adalah saya jatuh berulang-ulang dalam depresi. Saya pernah sharing lewat sms kepada Romo pada saat puncak depressi sekitar dua bulan yang lalu. Rasanya semua cara dan jawaban sudah ada. Tidak banyak yang perlu dipersoalkan kalau kita mau diam dan menyadari pikiran dan perasaan yang bersumber pada si aku. Persoalannya adalah bagaimana membuat itu terkait dengan kehidupan yang aktuil saat ini dan menjadi jujur dengan semua pergumulan batin yang ada.

 

Saat ini saya mengalami periode yang menyakitkan melihat segala sesuatu yang selama ini diupayakan sungguh hanya berpusat pada ego. Betapa menyakitkan melihat semua kelekatan dan kesakitan yang diakibatkannya. Betapa memalukan melihat gerakan-gerakan si ego yang manipulatif, mencoba tawar-menawar apakah betul semua itu harus dilepaskan.

 

Sms Romo yang mengatakan “keep experiencing without the experiencer” (alamilah tanpa si pengalam) sungguh menantang. Pergumulan terus berlangsung karena si ego mau terus “ngganduli”. Betapa susahnya proses de-flatting (menggembosi) the ego…

 

Terimakasih Romo. Salam hangat. CW.